Rabu, 10 April 2013

PENANGANAN SAMPAH STUDI KASUS DI KOTA TANGERANG



1.      Identifikasi Permasalahan Sampah Di Kota Tangerang

Sampah ? siapa sih yang mengenal barang satu ini, bahkan tidak dipungkiri dalam kegiatan kehidupan sehari hari setiap individu pasti mengeluarkan yang namanya sampah. Menurut UU Nomor 18 tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, sampah didefinisikan sebagai sisa kegiatan sehari-hari manusia dan/atau proses alam yang berbentuk padat. Dapat disimpulkan bahwa sampah adalah merupakan material sisa yang tidak diinginkan setelah berakhirnya suatu proses. Menurut proses sifat penguraiannya, jenis sampah dibedakan menjadi 2 yaitu :
1.      Sampah organik, dapat diurai (degradable)
Sampah Organik, yaitu sampah yang mudah membusuk seperti sisa makanan, sayuran, daun-daun kering, dan sebagainya. Sampah ini dapat diolah lebih lanjut menjadi kompos
2.      Sampah anorganik, tidak terurai (undegradable)
Sampah Anorganik, yaitu sampah yang tidak mudah membusuk, seperti plastik, kertas, botol dan bahan kaca, kaleng, dan sebagainya. Sampah ini biasanya didaur ulang sampah yang laku dijual untuk dijadikan produk lainnya.

Studi kasus mengenai penanganan sampah lebih difokuskan kepada  sampah limbah  rumah tangga terutama daerah perkotaan oleh karena jumlahnya yang terus semakin meningkat akan tetapi jumlah penampungan (TPA) terbatas sehingga harus dicari solusi untuk menanggulanginya. Daerah yang akan dijadikan observasi adalah kota tangerang, alasannya pertama saya tinggal didaerah tersebut, kedua pertumbuhan penduduknya sangat besar termasuk kaum urban oleh karena tangerang adalah salah satu penyangga ekonomi jakarta dan sebagian besar orang yang bekerja di jakarta tinggal di daerah ini .
Pertumbuhan penduduk yang cukup besar ini berdampak pada munculnya permasalahan penurunan kualitas lingkungan, seperti meningkatnya timbulan sampah, limbah atau polusi. Hal ini dikarenakan dalam setiap aktivitas manusia kota baik secara pribadi maupun kelompok, baik di rumah, kantor, pasar dan dimana saja berada, pasti akan menghasilkan sisa yang tidak berguna dan menjadi barang buangan.
Sumber dari Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Tangerang, Agus Sudrajat mengatakan jumlah sampah per hari saat ini mencapai 6.158 meter3/hari pada tahun 2012, padahal tahun 2006 hanya 4000 m3/hari. Berdasarkan data BPS prov. Banten pertumbuhan penduduk Tangerang 4%/tahun dengan data tahun 2006 berjumlah 1.6 juta orang dan tahun 2012 berjumlah 2.06 juta orang. Sehingga dapat dibuat persamaan linier antara perbandingan jumlah penduduk dan kapasitas volume sampah yang dihasilkan yaitu

y= 4691.3x - 3506.1
y = kapasitas volume sampah m3/hari
x = jumlah penduduk dalam juta orang

 
Timbulan sampah di kota Tangerang ini menjadi persoalan yang harus dihadapi oleh masyarakat dan pengelola kota. Pengelolaan sampah yang selama ini dilakukan hanya berupa penimbunan sampah secara besar-besaran tanpa ada pemilahan atau pun pengelolaan sampah lebih lanjut dan baru sebagian saja sampah yang dapat diangkut ke TPA . Hal ini terkendala dengan ketersediaan sarana dan prasarana persampahan antara lain meliputi penyediaan Tempat Pembuangan Sampah Sementara (TPS), sarana pengangkut seperti gerobak sampah dan truk serta Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Sehingga sampai dengan tahun 2012 total volume sampah dari tahun 2002-2012 mencapai 17,813,271 m3. Dengan faktor pemadatan/penyusutan volume sampah 22.5% maka volume TPA pada tahun 2012 yang terpakai sekitar 4 juta  m3 dari total volume 17,813,271 m3. Akan tetapi dengan terus meningkatnya jumlah penduduk maka diperkirakan kapasitas penampungan sampah TPA akan penuh sampai tahun 2017. Untuk itu perlu solusi agar TPA dapat beroperasi lebih lama dan jumlah sampah yang terlanjur tertimbun dapat dimanfaatkan menjadi sesuatu yang bernilai tambah sebagai contoh : proses daur ulang bahan anorganik, pengomposan pupuk organik, pembuatan lubang resapan biopori, pemanfaatan landfill gas sebagai pembangkit listrik.

  

Pengolahan sampah yang dilakukan dengan cara penimbunan sangat beresiko mencemari udara dan tanah. Pencemaran udara yang dapat ditimbulkan dari penimbunan sampah yaitu aroma yang tidak sedap dan penghasilan gas metan yang merupakan salah satu penyebab efek rumah kaca. Aroma sampah yang tidak sedap sangat mengganggu aktivitas masyarakat. Efek rumah kaca yang terjadi pada atmosfer bumi, dapat menyebabkan pemanasan global yang dampaknya sudah mulai kita rasakan sekarang. Sedangkan pencemaran tanah dapat terjadi karena penghasilan lindi yang sangat beracun oleh timbunan sampah. Lindi merupakan cairan hitam berancun yang dapat meracuni air tanah dan menurunkan tingkat kesuburan tanah.
to be continue .....

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar